Insiden Pekanbaru, Direspon Kamenag Pessel dan Tokoh Agama Tapan

0

SINARMUKOMUKO.COM & PERMATANILAU.COM – Menyikapi insiden terjadinya aksi penganiayaan terhadap Juhri Ashari Hasibuan yang menjadi imam shalat subuh sekitar pukul 05.17 WIB di Masjid Baitul Arsy, Jalan Srikandi, Kelurahan Delima, Kecamatan Bina Widya, Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, Jumat 7 Mei 2021. Akhirnya mendapat respon dari berbagai kalangan masyarakat diseluruh daerah se-Indonesia baik melalui bentuk kekecewaan secara nyata (dihadapan langsung) maupun melalui jejaring sosial media, termasuk di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat.

Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakan Kemenag) Kabupaten Pesisir Selatan, Abrar Munanda, MA saat dihubungi media online permatanilau.com melalui via handphone menyampaikan, pihaknya sangat prihatin atas insiden yang menimpa seorang imam sholat yang sedang menjadi imam disaat menunaikan perintah Allah SWT yakni ibadah sholat subuh berjamaah. Apalagi sampai menyebabkan penganiayaan terhadap imam yang sedang sholat.

“Kita berharap itu tidak terulang kembali dimanapun, dan untuk pengustannya biarkan aparat yang berwenang memprosesnya. Namun untuk di masjid-masjid, kita menghimbau agar jamaah juga bisa menjaga keamanan. Jangan ada orang yang tidak sholat masuk kedalam masjid, dan mari untuk tetap patuhi protokol kesehatan saat menjalankan ibadah sholat di masjid. Jangan sampai ada cluster-cluster baru covid-19 ini dirumah-rumah ibadah. InshaAllah hal-hal seperti insiden di Pekanbaru tidak terjadi lagi,” kata Abrar Munanda.

Terpisah, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Bakir, Batang Betung Tapan, Kecamatan Basa Ampek Balai (BAB) Tapan, Fauzi Damhra, S.Ag kepada permatanilau.com juga menyampaikan, pihaknya juga sangat prihatin atas insiden tersebut. Apalagi insiden tersebut merupakan hal yang tak terduga. Namun sayangnya seperti melihat yang kebelakangdari beberapa kejadian, banyak yang akhirnya pelaku diketahui sakit jiwa atau mengalami gangguan jiwa.

“Sebenarnya kita miris melihat hal yang seperti ini. Selalu saja pelakunya setelah berhasil diamankan dinyatakan gangguan jiwa. Semoga kedepan tidak terjadi kembali hal seperti itu, termasuk untuk di wilayah Tapan semoga tidak ada dan tidak terjadi,” kata Fauzi.

KISAH UMAR BIN KHATTAB

Lebih jauh media online permatanilau.com mencoba menggali kisah dizaman Rasulullah, seorang imam sholat yang tewas dibunuh ?

Fauzi menceritakan bahwasanya dizaman Rasulullah dulu, ada yang bernama Umar bin Khattab, ia adalah khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar Ash-Shidiq, lahir di Mekkah dan berasal dari Bani Adi yang masih satu rumpun dari suku Quraisy. Sebelum memeluk Islam, ia dijuluki Singa Padang Pasir, karena sebagai pemuda yang disegani dan ditakuti lantaran memiliki watak yang keras. Dan pada saat Abu Bakar meninggal dunia, Umar bin Khattab ditunjuk sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam menggantikan Abu Bakar.

Dalam ibadah haji terakhir yang dilakukan oleh Umar bin Khattab, tepatnya pada bulan Dzul Hijjah tahun 23 H, Umar pernah berdoa kepada Allah agar kelak diwafatkan dalam kondisi syahid. “Dalam kesempatan tersebut Umar bin Khattab berdoa, “Ya, Allah, usiaku telah lanjut. Kekuatanku telah berganti lemah. Sementara kekuasaanku (tanggungjawabku) kian luas. Cabutlah nyawaku tanpa disia-siakan,” Kemudian ia kembali ke Madinah. (Tarik al-Madinah oleh Ibnu Syibh,” jelas Fauzi.

“Nah, pada saat Umar bin Khattab tengah menjadi imam dalam sholat subuh, Beliau ditikam oleh seseorang setelah bertakbir dan membaca suratan Alquran. Dalam sebuah riwayat, Ibnu Abbas mengisahkan, “Umar ditikam dipagi hari. Yang menikamnya adalah Abu Lu’lu’ah, budak dari Mughirah bin Syu’bah RA. Abu Lu’lu’ah adalah budak milik Mughirah bin Syu’bah. Ia bekerja membuat penggilingan yang dijalankan dengan tangan. Sebagai tuannya, Mughirah menetapkan mengambil uang sebanyak 4 dirham darinya. Lalu Abu Lu’lu;ah mengadukan hal ini kepada Umar, Wahai amirul mukminin, sungguh Mughirah memberatkanku. Bicaralah kepadanya agar memberi keringanan untukku.

Kemudian Umar menanggapinya dengan mengatakan mengatakan, “Bertakwalah kepada Allah, Berbuat baiklah (Ma’ruf) kepada tuanmu” dihadapan Abu Lu’lu’ah. Umar berbicara demikian untuk menenagkannya. Namun Umar bin Khattab juga berencana berbicara dengan Mughirah agar memberi keringanan untuk Abu Lu’lu’ah. Namun sang budak tak menerima masukan Umar. Ia marah dan bergumam, Keadilannya untuk semua orang kecuali aku, Ia pun berazam akan membunuh Umar.

Sejak saat itulah, Abu Lu’lu’ah membuat khanjar (belati Arab) yang memiliki dua mata dan mengasahnya tajam-tajam sehingga sangat mematikan. Kemudian disaat Abu Lu’lu;ah tepat berada di belakang Umar bin Khattab dalam barisan sholat. Abu pun menghujamkan khanjar ke ketiak dan pinggang Umar bin Khattab. Tiga hari kemudian, Umar bin Khattab pun meninggal dunia dan dimakamkan disamping makan Rasulullwah SAW,” jelas Fauzi menceritakan kisah.

Terpisah, Nasution salah seorang tokoh di wilayah Tapan juga menyampaikan, selain prihatin atas insiden yang terjadi pada imam sholat subuh di Pekanbaru. Dirinya juga berharap kejadian seperti itu tidak terjadi di wilayah Tapan. Terlepas pelakunya dinyatakan memiliki riwayat gangguan jiwa atau tidaknya. Yang jelas sudah meresahkan agama, apalagi pada imam yang sedang sholat.

“Sebenarnya orang gangguan jiwa itu, ada yang bisa disuruh (diperintahkan) dan ada pula yang memang sudah parah gangguan jiwanya sehingga tidak bisa diperintahkan. Seperti contoh kalau yang bisa diperintahkan bisa mengganti dan mengenakan pakaian bagus seperti pakaian batik, dan banyak contoh lainnya lagi. Namun pada intinya, kita tetap berharap tidak terjadi hal seperti disitu (Pekanbaru). Kalaupun terjadi pasti akan dilakukan dengan hal yang sama terjadi disana, pasti masyarakat akan melakukan tindakan tegas terhadap orang lain yang berusaha menganggu atau memukul imam sedang sholat. Alhamdulilah untuk sejauh ini, disini belum ada terjadi seperti itu, dan kita berharap tidak akan pernah terjadi,” tutup Nasution.

Untuk diketahui, insiden penganiayaan terhadap imam sholat subuh yang terekam kamera CCTV, kini sudah diproses oleh aparat kepolisian. Kapolresta Pekanbaru, Kombes Nandang bersama Kapolsek Tampan, Kompol Hotmartua Ambarita membenarkan adanya insiden penganiayaan dan saat ini pelaku inisial DA sudah diamankan. Adapun kronologisnya, pada saat sholat subuh. Pelaku tiba-tiba masuk dari pintu samping dan berjalan dibelakang jemaah yang sedang menunaikan ibadah sholat subuh. Pelaku ketika itu mengenakan celana pendek dan berbaju kaos warna hitam. Dari belakang jemaah, pelaku berjalan menuju tempat imam dan akhirnya pelaku memukul pundak imam sholat yang sedang membacakan doa qunut dirakaat terakhir.

“Jadi, kami tadi sholat subuh berjamaah. Pas rakaat kedua, saat baca qunut, masuk orang tak dikenal. Dia masuk ke imam dan pukul punggung saya sambil bilang ‘Pak’. Tentu saya tidak jawab karena sedang sholat. Setelah memukul pundak dan memanggil tak direspon, pelaku meminta agar imam memperbaiki sholat sambil berteriak (Bisa dibetulin nggak sholatnya, itu keras suaranya,red) dan menampar muka saya,” kata Juhri yang menjadi imam sholat.

Penulis : Meky Alka

Share.

About Author

Leave A Reply

error: Content is protected !!