Nagari Kita Semakin Miris (Oleh ; Rifaldi Makriwal)

0


Sudah lebih sepekan banjir melanda di Nagari Binjai dan Nagari Kampung Tengah. Kec. Ranah Ampek Hulu Tapan. Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Dari data yang kami dapatkan bahwa di Nagari Binjai sebanyak 183 rumah terendam banjir dan 735 masyarakat terdampak serta di Nagari Kampung Tengah sebanyak 612 rumah terendam banjir dan 2518 masyarakat terdampak. Kalau kita melihat kebelakang, bahwa curah hujan yang tinggi ini sudah tentu menjadi langganan banjir di dua nagari tersebut. Kali ini merupakan banjir yang parah dialami oleh masyarakat kita, hampir setinggi dada orang dewasa. Setiap adanya cuaca ekstrim tentu masyarakat kita selalu dihantui dengan rasa takut dan khawatir akan banjir terjadi. Sudah bertahun-tahun ini terjadi dan ini terjadi terus kalau kita sama-sama diam dan tidak mencari solusinya. Kami sedih melihat saudara kita setiap tahun pasti akan mengalami musibah banjir ini, apakah kita masyarakat khususnya tapan diam dengan keadaan nagari tetangga kita terkena musibah banjir? Dimana semangat sosial kita yang satu rumpun ini?


Kami melihat juga Apatisme yang tinggi timbul dari berbagai pihak ketika musibah ini terjadi, akan tetapi ketika musibah ini telah terjadi tentu yang dilakukan berbagai kegiatan akan timbul demi membantu saudara kita yang terkena musibah, bagi kami itu sudah sewajarnya dilakukan oleh sesama manusia, apa lagi kita sesama muslim harus saling menolong. Sekarang kita tidak melihat perspektif seperti itu, kita melihat gimana kita bisa mencari solusi supaya musibah banjir ini tidak terjadi lagi. Tentu hal demikian tidak lepas dari peran utama pemerintah yang berwenang atas hal ini. Kalaulah kita terus melihat dan meratapi dengan keadaan sekarang ini pastilah masyarakat yang terdampak akan lama mengalami musibah ini. Sekarang bagi kami masyarakat tidak mau lagi hal demikian, masyarakat membutuhkan saat sekarang ini adalah solusi dan tindakan supaya banjir tidak terjadi lagi.


Dalam perjalan kami yang baru pulang kampung, kami melihat langsung yang telah terjadi di nagari tersebut baik itu rumah dan ladang perkebunan habis semuanya dihantam banjir. Ekonomi masyarakat pun menurun drastis bahkan kekurangan air bersih untuk keperluan sehari-hari. Banyaknya sampah yang berserakan dialiran sungai kecil kami rasa itu juga penyebabnya meluapnya air saat hujan bahkan yang memprihatinkan banyaknya ILEGAL LOGING yang hasilnya terbawa arus banjir. Saya rasa ini menjadi catatan penting bagi kita, ada apa dengan hutan kita di tapan ini sebebnarnya? Kok ILEGAL LOGING dilakukan dengan semudah itu?.


Pada saat saya terus melihat keadaan di nagari tersebut, saya bertemu dengan salah seorang pemuda aktivis, pada saat itu beliau juga melihat situasi disana. Beliau adalah kakanda Yaparudin, seorang Konsultan Konservasi Alam Lintas Batas. Mengenai Ilegal Loging ini, Beliau mengatakan “Minumbulkan banyak korban. Baik itu Sarana prasarana pendidikan, rumah ibadah, fasilitas umum lainnya seperti, rusaknya jembatan, kerugian dari pertanian masyarakat gagal Panen baik kebun jagung maupun lahan sawah, diperkirakan Lahan sawah yang rusak -+50 hektare, karena Jebol nya Tanggul Irigasi pintu air masuk ke lahan persawahan masyarakat dua Kenagarian. Sehingga terancamnya jiwa masyarakat Nagari Binjai dan Nagari Kampung Tengah di saat Hujan Turun. Serta rusaknya saluran PDAM masyarakat setempat akibatnya Pipa PDAM putus di terjang air dari tiga batang hulu sungai yaitu Batang sungai Tapan, Hulu air Batang Panadah, Batang air Sungai Gambir. Apa lagi ke Tiga hulu air ini sama-sama banjir hancurlah lima Kenagarian, yaitu Nagari Limau Purut Tapan, Nagari Talang Balarik Tapan, Nagari Binjai Tapan, Nagari Kampung Tengah Tapan dan Nagari Tapan Induk Alang Rambah”. Dengan hal demikian saya melihat semakin miris daerah kita ditambah lagi kanda Yaparudin mengatakan “Kegiatan Ilegal loging hanya dilakukan oleh secuil masyarakat Tapan. Masyarakat dari Nagari Limau Purut Tapan kec. Ranah Ampek Hulu Tapan Cukong2 Ilegal loging pada umumnya Masyarakat kec. Basa Ampek Balai Tapan di hitung Jari Paling lima orang”
Begitupun dengan sampah yang saya lihat tadi, banyaknya sampah rumah tangga hanya dibuang disungai kecil ini sangat besar pengaruhnya terhadap banjir. Saya kira itu wajar saja masyarakat membuangnya disungai karena ketersediaan tempat pembuangan sampah tidak ada. Seharusnya itu tempat pembuangan sampah itu ada supaya masyarakat tidak lagi sembarangan membuang sampah. Aliran air kecilpun banyak tersumbat bahkan tidak ada jalan air itu untuk mengalir. Kita bisa melihat tidak hanya banjir, bahkan Kesehatan pun terdampak akibat sembarangan membuang sampah. Kami kira ketersediaan tempat sampah ini sudah ada untuk menanggulangi masalah ini. Terkadang hal kecil ini bisa menyebabkan terjadinya hal besar yang tidak kita duga, contohnya musibah banjir ini.


Dalam kesempatan ini saya ingin mengajak kepada seluruh Elemen masyarakat, baik itu Niniak Mamak, Alim Ulama, Cadiak Pandai, seluruh ORMAS serta seluruh Komunitas yang ada di TAPAN khususnya. Mari kita serius menyelesaikan permasalahan banjir yang terjadi di daerah kita ini. Jangan setiap tahun menjadi tontonan kita. Kasihan masyarakat kita yang terdampak. Sekarang mari kita buktikan dengan bersatunya seluruh Elemen masyarakat Tapan bahwa kita sangat serius, kita tidak bisa berjalan sendiri, harus ada semangat gotong royong di dalam diri kita. Mari kita Bersama-sama Membangkitkan Batang Tarandam dengan peran para Elemen tadi yang selama ini diam entah kemana. Jauh lebih baik kita bangun dan kita lakukan suatu Gerakan Bakti Sosial untuk mencegah terjadinya banjir lagi, seperti halnya kita Bergotong Royong bersama. Walaupun hal besar tidak bisa akita lakukan, biarlah sumbangsih keprihatinan suatu pihak berwenang menyelesaikannya kalua memang itu ada dalam diri mereka, tapi marilah kita melakukan hal kecil yang setidaknya bisa menjadi solusi supaya banjir tidak terjadi lagi itupun butuh semangat gotong royong seperti yang kami katakan di atas tadi. Kita tidak berbicara apa yang kita lakukan untuk negeri ini dan apa yang kita lakukan setelah musibah ini terjadi yang itu biasa kita lakukan karena kita hidup saling menolong, akan tapi kita berbicara untuk mengajak semua pihak untuk serius menyelesaikan persoalan ini supaya tidak terjadi banjir lagi setiap hujan datang, itu jauh lebih baik bagi masyarakat kita.

Dari; Rifaldi Makriwal

Share.

About Author

Leave A Reply

error: Content is protected !!