Menuju UNESCO, Inilah Keunikan Perkampungan Adat Nagari Sijunjung Sebagai Destinasi Wisatawan

0

PERMATANILAU.COM – Berjarak 110 kilometer dari pusat Kota Padang, 130 kilometer dari Bandara Internasional Minang Kabau  memakan waktu hingga kurang lebih 4 jam, dan hanya 6 kilometer atau 15 menit jika dari pusat kota Muaro Sijunjung atau dari Kantor Bupati Sijunjung. Disepanjang jalan dihiasi 76 rumah adat mewakili seluruh suku yang ada, Chaniago, Piliang, Melayu, Tobo, Panai, dan Melayu Tak Timbago. Lokasi cagar budaya Rumah Adat yang diakui tersusun rapi baris-berbaris didalam satu lokasi. Bahkan telah masuk dalam daftar tentatif Warisan Dunia (UNESCO). Beginilah cerita ketertarikan para wisatawan baik lokal maupun manca negara dibalik keunikan Perkampungan Adat Nagari Sijunjung.

Ditulis oleh ; Meky Alka (Hengki) Malin Putih.
Jurnalis sekaligus Direktur Utama PT. Alka Jaya Media, pemilik portal berita media online Sinarmukomuko.com & Permatanilau.com.

Terlebih dahulu penulis akan memperkenalkan sedikit biografi, bahwa penulis yang memiliki akun facebook Pria Hijrah adalah anak keturunan Padang Layang-Layang, Simpang KUD Jorong Ganting (Polak Manggi), Nagari Sijunjung, Kecamatan Sijunjung, Kabupaten Sijunjung. Cucu pertama dari tokoh silat Basri panggilan Sirih yang bergelar Datuak Rajo (Pandekar Sulang) & Almarhumah Halimah, anak dari Indra (Si In) & Nurpaida yang kini menetap di Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu beristrikan rang chaniago (Nofri Yona suku Chaniago) dari Tapan, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Dan saat ini sedang pulang kampung lantaran musibah nenek meninggal dunia. Disela-sela waktu selagi masih di Sijunjung, penulis berusaha mengeksplor potensi yang dimiliki Nagari Sijunjung sebagai referensi nilai sejarah budaya yang cukup berkesan dan menjadi kebanggan bagi generasi minang, khususnya bagi generasi penerus garis keturunan berdarah Sijunjung.

Perkampungan Adat Nagari Sijunjung yang terletak diantara dua sungai, Batang Sukam dan Batang Kulampi ternyata sudah ada sejak Kerajaan Pagaruyuang Abad XII dengan nuansa bangunan tua Rumah Gadang (Rumah Adat Minang) yang memiliki pola bagonjong, tidak meninggalkan ciri khas dan tetap mempertahankan gaya leluhur.

Menariknya lokasi Perkampungan Adat Nagari Sijunjung yang menjadi daya tarik bagi wisatawan juga didasari karena pernah meraih peringkat kedua dalam Anugerah Pesona Indonesia (API) kategori kampung adat terpopuler 2019 dan ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia.

Jika sudah tiba dilokasi ini, kita akan melihat gerbang bertuliskan “Selamat Datang di Kawasan Perkampungan Adat Nagari Sijunjung” sebagai tanda bahwa sudah sampai dilokasi tersebut. Selanjutnya kita akan disambut dengan Monumen Puti Junjung (Bundo Kanduang) sebagai tanda memasuki perkampungan adat. Patung perempuan berpakaian adat yang menjunjung bekal setinggi sekitar empat meter tersebut memiliki histori sejarah bagi masyarakat sekitar bahwa sebutan Puti Junjung berawal dari Puti yang artinya merupakan sebutan untuk seorang perempuan bangsawan di Minang atau lebih akrab disebut dengan “Putri”. Begitupun dengan cerita asal-usul kampung adat ini yang berlanjut dalam bahasa tutur secara turun temurun. Nama Sijunjung diambil dari hasil rapat yang digelar petinggi kampung.

Kebuntuan terkait nama terjawab saat suara perempuan minta tolong yang memecah keheningan. “Suara itu berasal dari tepi Sungai Mananti”. Tak satupun yang mampu menyelamatkan perempuan yang terjepit dihimpitan batu. Perempuan ini dikenal dengan Si Niar, nama kebangsawanannya Puti Junjuang. Hanya Syech Amaluddin berhasil membebaskan Puti Junjuang yang saat itu sedang terjepit, sehingga akhirnya dari peristiwa itulah kemudian yang menjadikan Ninik Mamak (tokoh adat) sepakat menamakan daerah ini dengan Sijunjuang. Puti Junjuang itu yang dibuatkan patungnya.

Mengenai rumah adat di Perkampung Adat Nagari Sijunjung yang tanpa Rangkiang. Ternyata ikut menjadi ciri khas dan keunikan tersendiri padahal biasanya rangkiang ada didepan halaman rumah gadang sebagai tempat penyimpanan padi hasil panen. Hal ini justru berbeda di Perkampungan Adat Nagari Sijunjung sebab masyarakat dari enam suku di Kampung Adat Nagari Sijunjung memilih menyimpan padi hasil panennya di bawah lantai rumah yang ditinggikan. Tempat ini berada disisi sudut kanan dalam ruang utama, menurut masyarakat namanya Balero. Padi hasil panen itu dimasukkan di bawah lantai kemudian ditutup dengan tikar. Menariknya lagi menurut masyarakat setempat tumpukan padi itu kadang juga sebagai pengganti kasur yang justru apabila tidur diatas tumpukan padi bisa sebagai terapi kesehatan.

Terkait apabila ada event atau kegiatan besar di Kabupaten Sijunjung, ternyata Rumah Adat didalam Perkampungan Adat Nagari Sijunjung juga bisa dijadikan sebagai lokasi penginapan bagi para tamu yang ingin bermalam dirumah gadang tersebut. Hal ini pernah terjadi seperti saat momen event bertaraf internasional kejuaraan dunia arung jeram yang bertajuk Silokek Geopark Rafting World Cup (SGRWC) 2019 yang melibatkan ratusan atlet didalam olahraga ektream tersebut bahkan mulai dari atlet nasional hingga internasional.

Keindahan dan keunikan disertai histori sejarah akhirnya Perkampungan Adat Nagari Sijunjung membuat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI telah menetapkan bahwa lokasi ini sebagai kawasan cagar budaya nasional. Bahkan, Pemerintah Kabupaten Sijunjung sedang berupaya untuk diterima UNESCO sebagai warisan dunia. Hal ini diperkuat pula dengan penyampaian Bupati Sijunjung Yuswir Arifin Dt. Indo Marajo pada saat itu yang mengatakan bahwa pemerintah kabupaten sedang dalam tahap penyempurnaan teknis hingga dokumen-dokumen yang diminta UNESCO. Bahkan pada saat itu berkas dokumen yang sudah dijilid sudah diminta oleh Dirjen Pendidikan dan Kebudayaan. Pada saat itu pula semua pihak yang terlibat bekerja keras dalam memperjuangkan Kampung Adat Nagari Sijunjung menjadi warisan dunia UNESCO.

Untuk diketahui, Kawasan Rumah Tradisional Padang Ranah Nagari Sijunjung sudah masuk dalam daftar inventaris cagar budaya tidak bergerak Balai Pelestarian Cagar Budaya Sumatera Barat dengan nomor inventaris 12/BCB-TB/A/17/2014. Dan pada tahun 2015, Perkampungan Tradisional Nagari Sijunjung masuk dalam daftar tentatif warisan dunia UNESCO. Pada tahun 2017, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kawasan Cagar Budaya Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan tanah Bato Nagari Sijunjung dengan SK Nomor 186/M/2017 sebagai Cagar Budaya peringkat Nasional. Kawasan ini pun sudah registrasi nasional dengan nomor Registrasi Nasional no: RNCB.20171103.05.001482. Kawasan ini meliputi dua jorong, yaitu : Jorong Koto Padang Ranah dan Jorong Tanah Bato dengan luas ± 157.1 Ha.

Bersyukurlah kita sebagai garis keturunan darah Sijunjung, dimanapun kita berada termasuk seluruh perantau di nagari urang. Mari bersama-sama kita promosikan destinasi wisata kampung kita yang terindah ini.

Share.

About Author

Leave A Reply

error: Content is protected !!